Sehari Wisata Religi di Semarang

Sehari Wisata Religi di Semarang

Tepat pukul enam lebih lima belas menit pagi, kereta api yang membawa saya semalaman akhirnya berhenti di stasiun tujuan, stasiun Poncol, Semarang. Ini adalah kali pertamanya saya menyambangi Ibu kota provinsi Jawa Tengah ini.

Bukan itu saja, ini juga kali pertamanya saya berpergian seorang diri, alias solo traveling. Saya akan menghabiskan waktu dua hari di Semarang sendiri, rencana perjalanan sudah saya persiapkan jauh – jauh hari. Hari pertama akan saya habiskan dengan wisata religi, dan hari kedua untuk wisata sejarah.

Setidaknya ada tiga tempat wajib yang bisa kamu kunjungi jika ingin melakukan wisata religi seharian di semarang, berikut ulasan singkatnya:

  1. Vihara Buddhagaya Watugong
Vihara Buddhagaya Watugong
Vihara Watugong

Tempat ibadah umat Buddha ini terletak di pingiran kota Semarang, tepatnya di jalan perintis kemerdekaan yang merupakan jalan lintas Semarang – Yogyakarta. Di dalam vihara yang diresmikan pada tahun 2016 ini terdapat Pagoda yang dinobatkan oleh MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia.

Untuk mengunjungi tempat ini dari Stasiun Poncol bisa mengunakan bus Trans Semarang seharga Rp3.500. Transit di Halte Elizabeth, lalu lanjutkan perjalan menggunakan bus Trans Semarang yang menju Terminal Ungaran, dan turun di Halte Mega Rubber. Dari halte, jalan sekitar lima menit, dan akan terlihat pagoda tinggi dengan dominasi warna merah di sebelah kiri jalan. Jika tak ingin report, sudah ada Go-Jek di Semarang.

Untuk memasuki komplek peribadatan yang sudah buka dari pagi hari ini, tidak ada biaya yang dikenakan, kita cukup memasukan duit sumbangan seikhlasnya ke dalam kotak yang sudah disediakan di pos keamanan. Jangan lupa isi dulu buku tamunya, dan tulis tujuan anda datang ke vihara ini, misal untuk wisata.

Di dalam pagoda terdapat benda – benda khas ibadat umat Buddha, seperti patung Budha dan patung dewa – dewa. Di sebelah kiri pagoda juga terdapat patung Budha tidur dengan ukuran yang tidak terlalu besar.

  1. Kelenteng Sam Poo Kong
Sam Poo Kong
Sam Poo Kong

Apakah anda pernah mendengar tentang laksamana Cheng Ho? Dia adalah seorang pelaut beragama Islam dari Tiongkok. Semasa hidupnya dia telah berlayar ke berbagai penjuru negara dan lautan, termasuk ke Indonesia. Laksamana Cheng Ho pernah singgah di Aceh, Semarang, Palembang, dan kota – kota lainnya.

Kelenteng Sam Poo Kong sejatinya merupakan tempat peribadatan umat Konghucu, yang menjadikannya special adalah terdapat sebuah patung Laksamana Cheng Ho berukuran besar di dalam komplek Kelenteng ini..

Untuk para pelancong yang ingin memasuki kawasan kelenteng ini, cukup membayar Rp5.000, namun bagi orang yang ingin beribadah bisa masuk tanpa biaya. Ketika memasuki Klenteng ornamen – ornamen khas Tiongkok langsung menyambut kita. Seluruh bagunan disini di dominasi warna merah dan kuning yang memang merupakan warna khas Tionghoa,

Biaya sebesar Rp5.000 sejatinya merupakan biaya masuk untuk komplek Kelentengnya saja. Jika hanya ingin sebatas melihat patung Laksamana Cheng Ho dan berfoto dengan latar belakang klenteng itu sudah cukup. Namun jika ingin masuk lebih dalam ke dalam tempat sembahyang dan ingin berfoto dengan pakaian tradisional Tiongkok, ada biaya tambahan yang harus dibayar.

Oh, iya. untuk mengunjungi Keleteng Sam Poo Kong dari Vihara Buddhagaya Watugong sebenarnya juga bisa menggunakan Trans Semarang, namun entah mengapa ketika saya menunggu di Halte tidak ada bus yang berhenti. Saya memutuskan untuk menggunakan Go – Jek.

  1. Mesjid Agung Jawa Tengah
Mesjid Agung Jawa Tengah
Mesjid Agung Jawa Tengah

Tempat ibadah terakhir yang saya kunjungi seharian di Semarang tersebut adalah Mesjid Agung Jawa Tengah. Ketika memasuki gerbang Mesjid Agung, bangunan Mesjid belum akan terlihat dengan jelas, teruslah berjalan melewati kawanan parkir, tak lama, bangunan mesjid yang indah dan megah akan terpampang di depan mata.

Yang menarik dari kawasan mesjid Agung ini adalah terdapat payung – payung berukuran besar di depan mesjid. Payung – payung tersebut akan di kembangkan ketika melaksanakan Sholat yang menyedot jemaah cukup banyak hingga keluar mesjid, seperti Sholat Eid.

Masuklah terus ke dalam mesjid, dan nikmati keindahan rancangan bangunan ini. Di dalam pintu masuk mesjid terdapat sebuah Al-qur’an raksasa berukuran 145 x 95 cm2 yang ditempatkan di dalam kotak kaca tepat di belakang pintu masuk mesjid. Al-qur-an raksasa ini ditulis tangan selama 2 tahun  3 bulan oleh Drs. Hayat dari Universitas Sains Al-qur-an.

Di depan mesjid terdapat sebuah Menara setinggi 99 Meter bernama Menara Al Husna. Di lantai 19 menara ini terdapat teropong yang bisa kita gunakan untuk melihat kota Semarang dari ketinggian. Sayangnya, saya tidak sempat masuk ke dalam Menara ini.

Demikianlah cerita perjalanan saya menikmati wisata religi di Semarang, dari tiga agama dan kepercayaan di Indonesia. Perjalanan ini semakin menyadarkan saya bahwa Indonesia kaya karena perbedaannya. Di artikel selanjutnya akan saya bahas tentang wisata sejarah di Semarang. Nantikan ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *