Long Weekend-an di Yogyakarta

Long Weekend-an di Yogyakarta

Kata orang, Yogyakarta itu kaya akan sejarah, budaya, dan makanan. Ingin membuktikannya sendiri, saya berkesempatan mengunjungi daerah istimewa yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah itu. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan itu saya lakukan pada Long Weekend awal bulan Mei 2016 lalu bersama tiga orang rekan kerja.

Persiapan yang kami lakukan untuk liburan ini terbilang mepet, dua minggu sebelum keberangkatan. Hasilnya Tiket Kereta api sudah ludes terjual, dan kamar murah di pusat kota juga sudah digondol pelancong lain. Untuk transportasi menuju Yogyakarta, kami akhirnya memilih naik Bus. Bus yang kami tumpangi malam hari sepulang kerja itu, berjalan tersendat – sendat bersama ribuan kendaraan lain yang akan meninggalkan ibu kota. Butuh lebih dari dua puluh jam untuk sampai di tempat tujuan dengan kondisi jalanan seperti ini. Kami sampai di Yogyakarta pukul satu siang, dan itinerary yang sudah disusun matang – matang itu terpaksa di rombak.

Untuk penginapan kami terpaksa bergeser sedikit ke pinggir kota, tepatnya dekat Bandara Adisucipto. Penginapan yang kami temukan di AirBnB ini bernama “Penginapan Pojok”. Tarifnya Rp75.000 / malam / orang dengan kamar bergaya dorm. (Harga Mei 2016). Kamar dorm ini terletak tepat di depan ruang tamu (dan juga ruang makan untuk tamu, dan pelanggan cafe). Kamar tak ada pintunya, hanya ditutupi dua helai kain besar. Suara dari ruang tamu tersebut tentu saja akan terdengar sangat jelas ke dalamĀ  kamar. Untungnya saat kami menginap, tak ada tamu yang membuat kebisingan di malam hari.

Menyatu dengan penginapan, terdapat juga tempat makan yang bernama “Warung Makan Pojok.” Menu – menu yang disediakan terbatas, namun rasanya lumayan enak, dan bersahabat dengan kantong. Yang paling recommended adalah Menu Ayam Geprek yang pedasnya mantap. Selain itu, pada pagi hari setiap tamu bisa memesan kopi atau teh manis, gratis. Pelayanannya sangat ramah dan bersahabat, terutama dari ibu pemilik penginapan yang berusia sekitar tujuh puluh tahun.

***

Pada hari pertama, otomatis tidak banyak yang bisa kami lakukan. Malam harinya, kami bergerak ke salah satu tempat paling terkenal di Yogya. Apalagi kalau bulan Jln. Malioboro. Tourist Attraction disana adalah Plang nama jalan yang wajib di jadikan latar berfoto, Warung – warung penjaja makanan khas di pinggir jalan, dan Kedai – kedai penjual souvenir khas Yogya.

Kami tentu saja tak melewatkan kesempatan mencicipi menu angkringan yang legendaris. Memasuki sebuah angkringan bergaya lesehan, sate – sate angkringan yang tampak menggoda langsung berpindah ke piring kami. Minuman unik Kopi Joss tak lupa juga kami pesan. Kopi Joss ini semacam kopi hitam biasa (bisa ditambah susu), namun dimasukan arang menyala ke dalamnya. Kami bahkan sempat ragu meminumnya. Setelah memberanikan diri untuk menyeruput, ternyata rasanya enak, dan tidak ada rasa arangnya. Kirain.

Kami kemudian naik becak menuju alun – alun selatan. Disana, ada dua hal yang bisa kita lakukan di malam hari: Yang pertama, naik mobil – mobilan berlampu mengelilingi alun – alun. Mobil – mobilan ini bisa di jalankan dengan cara dikayuh layaknya sepeda. Ada beberapa pedal di bawah kursi, kayuhlah secara bergotong – royong agar laju mobilnya lebih cepat. Suara musik masa kini yang diputar dari mp3 player menambah semangat mengayuh mobil di tengah kemacetan itu. Kita bahkan harus berebut jalan dengan kendaraan bermesin benaran. Serasa jadi bocah kembali.

Yang kedua, jangan lupa mencoba membuktikan mitos tentang dua pohon beringin kembar yang tumbuh di tengah alun – alun. Konon katanya, siapa yang berhasil berjalan melewati tengah – tengah pohon tersebut dengan mata tertutup maka permohonannya akan terkabul. Bukannya percaya, namun tetap saja kami ingin mencobanya. Kita bisa menyewa kain penutup mata seharga Rp5.000, dan bisa dipakai bergantian dengan teman. Setelah mencoba beberapa kali, kamipun gagal. Ya sudahlah.

Keesokan harinya kami berangkat cukup pagi ke Kota Magelang, Jawa tengah. Destinasi utamanya tentu saja Candi Borobudur. Dari Alte Trans Yogya Bandara Adisucipto, kami naik bus menuju terminal giwangan. Dari giwangan, naiklah bus tujuan Candi Borubudur, cukup membayar Rp20.000 (Tarif Mei 2016) dengan waktu tempuh lebih kurang 45 Menit. Kondisi bus agak tua, dan tak terawat. Khas angkutan umum di Indonesia. Selama perjalanan kita akan berhenti di beberapa terminal lain sebelum sampai di Borobudur, salah satunya di Terminal Jombor. (Dari Alte Trans Yogya Bandara Adisucipto sebenarnya bisa juga langsung ke Terminal Jombor).

Saat kami sampai, kawasan Candi borobudurĀ  sudah disesaki banyak sekali pelancong, baik lokal maupun asing. Mereka tumpah ruah ingin segera menyaksikan sendiri salah satu warisan dunia itu. Ketika memutuskan mengunjungi Candi Borobudur, saya sarankan memakai pakaian tipis. Cuaca sangat terik, apalagi di tengah kerumunan manusia seperti itu. Berpeluh – peluh ria tak akan terhelakan lagi. Jangan lupa juga membawa payung untuk melindungi diri dari terpahan cahaya matahari. Jika tak membawa, tenang saja, banyak penyewa payung yang tersebar disana. Harga berkisar Rp5000 s/d Rp10.000.

20160506_112114

Menikmati pesona Candi Borobudur dapat dilakukan dengan mengusuri setiap tingkatan dari bangunan yang didirikan sekitar tahun 800-an Masehi ini. Relief – relief yang dipahat di dinding candi akan membawa kita serasa kembali ke masa peradaban jawa kuno. Jangan hentikan langkah hingga ke tingkat paling atas tempat stupa utama berada. Makin keatas candi budha ini akan semakin instagramable.

Tak jauh dari kawasan Candi Borobudur, ada satu tempat wisata lain yang sedang jadi bahan perbincangan. Namanya Camera House. Jika ditempuh dengan kendaraan, hanya sekitar tujuh menit. Sebuah bangunan mirip camera besar langsung menyambut kita saat sampai di tempat ini. Disana kita bisa mendapatkan berbagai spot foto unik yang siap memenuhi memory hp atau camera. Misal 3D Art foto yang membuat kita seolah bagian dari sebuah lukisan dengan efek tiga dimensi. Ada juga mirror castle, sebuah ruangan kecil yang berdindingkan kaca. Objek asli dan bayangan dari cermin – cermin yang ter-capture dalam satu foto membuatnya terlihat unik.

Untuk masuk ke tempat ini tentu saja kita harus membeli tiket. Setiap lantainya menghadirkan jenis spot foto yang berbeda – beda. Pengunjung harus membeli tiket untuk setiap jenis spot yang mereka inginkan. Jika ingin lebih hemat, bisa membeli paket tiket untuk beberapa jenis. Sayangnya tempat ini belum sepenuhnya selesai dibangun (Mei 2016). Selain bangunan berbentuk kamera, bangunan di belakangnya masih terlihat berantakan.

***

Hari terakhir di Yogya kami memutuskan untuk kembali menjelajahi pusat kota, sekalian untuk beli oleh – oleh. Dari Malioboro kami menyewa becak dengan tarif Rp20.000 / becak untuk dua orang (tarif mei 2016). Kami akan dibawa ke tiga tempat sekaligus, mulai dari pusat oleh – oleh Bakpia Pathok, batik, dan berakhir di Taman Sari Water Castle.

Taman Sari Water Castle merupakan bekas taman kraton Yogyakarta. Kawasan yang dulu luasnya sekitar 10 hektare itu kini sebagaian besar sudah berubah menjadi pemukiman warga. Yang tersisa hanya beberapa, seperti bekas kolam pemandian, lorong dan mesjid bawah tanah. Semuanya terkepung oleh pemukiman penduduk yang makin padat. Tempat ini juga tampak agak kurang terawat, atau mungkin memang sengaja dibiarkan agar terkesan alami.

Yang paling bagus dari keseluruhan komplek Taman Sari adalah bekas kolam pemandian sultan. Kolam pemandian yang biasa disebut Umbul Binangun ini dahulu digunakan sebagai kolam pemandian untuk pemaisuri, istri, dan putri – putri sultan. Di dalamnya terdapat tiga kolam yang dikelilingi tiga bangunan di sebelah utara, selatan, dan tengah. Ada yang berfungsi sebagai tempat istiraat dan berganti pakaian, ada juga menara yang dahulunya digunakan oleh sultan untuk tempat mengamati istri dan putrinya yang sedang mandi.

20160507_121728

Perjalanan kami berakhir di Taman Sari Water Castle ini. Kami segera bergerak menuju Terminal Giwangan, karena pekerjaan di Jakarta telah menanti. Sembari menunggu bus berangkat, kami memutuskan untuk mencicipi Mie Ayam Bu Tumini, yang berada tak jauh dari Terminal. Mie disini tekturnya cukup unik, besar mirip spaghetti dengan kuah hitam kentalnya. Kami memesan porsi jumbo seharga Rp10.000 (Harga Mei 2016), cukup mengisi perut sebelum menempuh perjalanan belasan jam lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *