Menanti Sang Fajar Merekah di Gunung Bromo

Menanti Sang Fajar Merekah di Gunung Bromo

Tepat tengah malam, sebuah bus pariwisata yang sudah disiapkan travel agent membawa kami ke luar kota Batu. Memakan waktu sekitar tiga jam perjalanan kami sampai di pemberhentian pertama, dari sini kami akan menempuh satu jam perjalanan lagi menggunakan mobil jip menuju kawasan Penanjakan, tempat paling pas untuk menunggu sang fajar merekah dari balik Gunung Bromo. Sekitar pukul empat pagi buta, beberapa puluh menit sebelum matahari terbit, kami sampai di Penanjakan. Berdesak – desakan dengan ratusan wisatawan lain menunggu lahirnya sang mentari hari itu.

 

Dari Guest House, kami sudah berpakaian lengkap ala – ala anak gunung. Saya memakai dua lapis jaket tebal lengkap dengan penutup kepala, sarung tangan hitam yang baru dibeli di Bandung tiga jam sebelum berangkat, kaos kaki tebal lengkap dengan sepatu kets. “Alat tempur” segitu ternyata masih gagal melindungi saya dari terpahan udara dingin yang berhasil menembus kulit hingga menggetarkan tulang. Wal hasil, saya sukses menggigil kedinginan, lengkap dengan adegan mulut berasap, ala – ala musim salju di Eropa.

Penanjakan ini, konon kata mbah Google memang tempat paling afdol untuk menyaksikan sang fajar keluar dari baling puncak Bromo. Dari sana, seluruh kawasan Bromo yang berpasir dapat terlihat jelas. Tak berapa lama menunggu, semburat jingga mulai mewarnai langit yang gelap, membuat seluruh mata terpana menyaksikan lukisan agung sang pencipta. Ratusan kamera berbagai bentuk siap mengabadikan moment syahdu yang hanya berlangsung beberapa menit setiap hari itu. Wisatawan berdesak – desakan dan saling berebut untuk menjadi yang paling terdepan agar leluasa mengabadikan, atau sekedar menikmatinya.

Taadaa….

Sekitar pukul enam pagi, matahari semakin meninggi, sang jingga sudah menghilang dan meninggalkan perasaan kagum di hati. Saatnya meninggalkan kawasan Penanjakan, menuju aktor utama tempat ini, kawah Bromo. Jip melaju cepat menembus pasir, mengingatkan kami pada adegan film Fast & Furious. Tak lama memacu adrenalin, mobil jip berhenti, kami sudah sampai, tepat di depan berdiri dengan agungnya, Puncak Bromo.

Untuk menuju kawah bromo, ada dua pilihan, tergantung niat dan ketebalan dompet. Jika tak mau bercapek – capek ria, silakan menyewa kuda yang banyak tersedia disana, harganya berkisar Rp100.000. Jika siap lelah, berjalan kaki bukan pilihan yang buruk. Selain sekalian berolahraga, isi dompet juga bisa ditahan agar tak mengucur deras.

Abaikan modelnya….

Jika berniat ke kawah Bromo yang masih aktif itu, sebaiknya membawa masker karena bau belerang cukup menyengat.

Lepas tengah hari setelah menikmati makan siang seadanya , kami beranjak ke lokasi lain, namanya Pasir Berbisik. Pasir Berbisik ini semacam lautan pasir yang namanya di ambil dari judul film yang berlokasi shooting di tempat ini. Sejauh mata memandang, hamparan pasir luas siap memanjakan mata.

Edisi ngantuk… 

Tak lama mengabiskan sisa memory kamera disana, kami harus sudah kembali ke Kota Batu. Dari Pasir Berbisik, pak supir melaju Mobil Jipnya super ngebut melewati gelombang – gelombang pasir. Adegan fast and furious kembali dimulai, bahkan kali ini lebih gila dari pada sebelumnya. Kami berpamitan dengan keindahan Gunung Bromo dengan perasaan puas maksimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *